Jam

Sabtu, 24 November 2012

Pesan Hidup Dari Bocah Penjual Koran

Dari tadi pagi hujan
mengguyur kota tanpa henti, udara yang
biasanya sangat panas, hari ini terasa
sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali
mobil yang lewat, hari ini hari libur membuat
orang kota malas untuk keluar rumah.

Di perempatan jalan, Umar, seorang anak
kecil berlari-lari menghampiri mobil yang
berhenti di lampu merah, dia membiarkan
tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia
begitu erat melindungi koran dagangannya
dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !”seru Umar berusaha
mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan
kasihan, dalam hatinya dia merenung anak
sekecil ini harus berhujan-hujan untuk
menjual koran.

Dikeluarkannya satu lembar
dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan
membuka sedikit kaca mobil untuk
mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar
dengan riang.

”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau
koran tadi pagi aku juga sudah baca”, jawab
si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu
diulurkan kembali uang dua puluh ribu yang
dia terima, ”Terima kasih bu, saya menjual
koran, kalau ibu mau beli koran silakan,
tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-
cuma, mohon maaf saya tidak bisa
menerimanya”, Umar berkata dengan muka
penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali
pemberiannya, raut mukanya tampak kesal,
dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari
dalam mobil dia menggerutu ”Udah miskin
sombong!”. Kakinya menginjak pedal gas
karena lampu menunjukkan warna hijau.

Meninggalkan Umar yang termenung penuh
tanda tanya.Umar berlari lagi ke pinggir, dia
mencoba merapatkan tubuhnya dengan
dinding ruko tempatnya berteduh.Tangan
kecilnya sesekali mengusap muka untuk
menghilangkan butir-butir air yang masih
menempel. Sambil termenung dia menatap
nanar rintik-rintik hujan di depannya, ”Ya
Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang
laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga
reda, Umar masih saja duduk berteduh di
emperan ruko, sesekali tampak tangannya
memegangi perut yang sudah mulai
lapar.Tiba-tiba
didepannya sebuah mobil
berhenti, seorang bapak dengan bersungut-
sungut turun dari mobil menuju tempat
sampah,”Tukang gorengan sialan, minyak
kaya gini bisa bikin batuk”, dengan penuh
kebencian dicampakkannya satu plastik
gorengan ke dalam tong sampah, dan
beranjak kembali masuk ke mobil. Umar
dengan langkah cepat menghampiri laki-laki
yang ada di mobil. ”Mohon maaf pak,
bolehkah saya mengambil makanan yang
baru saja bapak buang untuk saya makan”,
pinta Umar dengan penuh harap. Pria itu
tertegun, luar biasa anak kecil di depannya.

Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari
tong sampah tanpa harus meminta ijin.

Muncul perasaan belas kasihan dari dalam
hatinya.

“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan
yang baru, kalau kamu mau”

”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu
rasanya sudah cukup bagi saya, boleh khan
pak?, tanya Umar sekali lagi.”Bbbbbooolehh”,
jawab pria tersebut dengan tertegun. Umar
berlari riang menuju tong sampah, dengan
wajah sangat bahagia dia mulai makan
gorengan, sesekali dia tersenyum melihat
laki-laki yang dari tadi masih
memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi
terus Umar yang sedang makan. Dengan
perasaan berkecamuk di dekatinya Umar.

”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa
kamu harus meminta ijinku untuk mengambil
makanan yang sudah aku buang?, dengan
lembut pria itu bertanya dan menatap wajah
anak kecil di depannya dengan penuh
perasaan kasihan.”Karena saya melihat
bapak yang membuangnya, saya akan
merasakan enaknya makanan halal ini kalau
saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya,
meskipun buat bapak mungkin sudah tidak
berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat
berharga, dan saya pantas untuk meminta
ijin memakannya ”, jawab si anak sambil
membersihkan bibirnya dari sisa minyak
goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya
berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu
lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat
kamu basah dan kedinginan, aku ingin
membelikanmu makanan lain yang lebih
layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.Si
anak kecil tersenyum dengan manis,
”Maaf pak, bukan maksud saya menolak
rejeki dari Bapak. Buat saya makan
sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari
cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan
ini dan menerima tawaran makanan yang
lain yang menurut Bapak lebih layak, maka
sekantong gorengan itu menjadi mubazir,
basah oleh air hujan dan hanya akan jadi
makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang
untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih
nikmat dengan makan di restoran di mana
aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-
laki dengan nada agak tinggi karena merasa
anak di depannya berfikir keliru.

Umar menatap wajah laki-laki didepannya
dengan tatapan yang sangat teduh,”Bapak!,
saya sudah sangat bersyukur atas berkah
sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan
bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar
memperbaiki posisi duduknya dan berkata
kembali, ”Dan saya merasa berbahagia,
bukankah bahagia adalah bersyukur dan
merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan
menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat
hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan
kedahagaan untuk mendapatkannya kembali
di kemudian hari.”Umar berhenti berbicara
sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di
depannya untuk berpamitan. Dengan suara
lirih dan tulus Umar melanjutkan
kembali,”Kalau hari ini saya makan di
restoran dan menikmati kelezatannya dan
keesokan harinya saya menginginkannya
kembali sementara bapak tidak lagi
mentraktir saya, maka saya sangat khawatir
apakah saya masih bisa merasakan
kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia
mengamati anak kecil di depannya yang
sedang sibuk merapikan koran dan kemudian
berpamitan pergi
”Ternyata bukan dia yang
harus dikasihani, Harusnya aku yang layak
dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai
dengan hari ini”

Seperkti dikisahkan dalam forum kaskus

Semoga Menjadi Inspirasi Dan Motivasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar